CINTAMU DIKALA RINDU

So guys, ini pertama kalinya aku nulis cerita di kaskus karena sebelumnya aku lebih jentikin jemari aku untuk buat cerita di wattpad. Dengan niat, Sengaja aku nulis something yang beneran real alias nyata dari kehidupan seseorang. Ini memang bukan dari diri aku, tapi kisah nyata ini aku ambil dari seseorang yang punya jiwa tegar, lebih tegar dari yang bakalan kalian bayangin sebelumnya.
Untuk mendalami karakter maka aku sebut saja tokoh dari cerita ini sebagai AKU. 
Selamat membaca dan menikmati jentikan jemariku :)

***


Namaku Racinta Anastasia panggil saja Cinta, aku terbuat dari sel pria bijaksana, dermawan dan segala yang mencakup hal baik pada dirinya. Dan, aku lahir dari rahim wanita yang ku sebut bidadari. Karena segala hal baik juga mencakup pada dirinya. Mama dan Papa, menyayangiku. Aku teringat saat baru bisa belajar mengendarai sepeda, mereka memberikan sepeda lipat mahal yang kalau aku sebut bisa membeli satu buah handphone kalangan atas. Aku bersyukur, karena bisa mendapatkan apa yang aku mau.
Karena di balik itu ada teman-teman yang kehidupannya tidak sebahagia dan semewah yang aku rasakan. Saat kecil, aku hanya asik menikmati hidup tanpa tau rasanya bahwa ada kesengsaraan yang dialami terlebih dahulu sebelum mandapatkan kebahagiaan. Atau bahkan, setelah kebahagiaan baru merasakan kesengsaraan. Ah, entahla. Hidup memang selalu berputar, bahkan berbanding terbalik. Semua itu mulai aku rasakan saat usiaku menginjak 17tahun.

Aku memiliki kakak perempuan, dia tidak terlalu banyak masuk kedalam ceritaku karena kecelakaan yang aku alami, sama sekali tidak ada sosok dia yang berada disisi atau bahkan sama sekali dia tidak tau. Racitra Ananta, aku memanggilnya Citra tanpa sebutan kakak. Jarak ku dengannya sekitar delapan tahun. Saat aku mulai menginjak remaja, dia sudah terbang ke Jerman untuk melanjutkan study. Jadi, hanya sedikit peran yang dia lakukan didalam kisah yang akan aku ceritakan.

Mama dan Papa, mereka lah yang setia menemani. Papa memiliki saham di Jakarta Selatan, ia memulai bisnis turunan dari Kakek ku. Saat aku masuk SMP, Papa mulai meresmikan Apartment di Jerman itulah sebabnya kakak-ku berada disana sembari study. Mama-ku hanya wanita biasa yang bergelar SE dibelakang namanya, sekarang kerjanya hanya mengurus aku dan rumah. Sungguh hebat Mamaku berjodoh dengan Papaku, bukan?

Dan Aku seorang model, sudah limatahun lebih menginjakan kaki didunia modeling sejak sekolah menengah pertama. Mama menyukai postur tubuhku yang gemulai, Mama menyukai fashion maka dari itu ia menobatkan aku sebagai dirinya di masa muda. Kakak-ku tidak menyukai sesuatu yang menurutnya ribet, dia tidak menyukai apa yang Mama suka. Dia lebih memihak ke Papa yang lebih berperan aktiv pada dunia bisnis. 
Aku menyukai fashion, aku menyukai pose, aku menyukai sesuatu yang highclass. 

Cukup segini saja, tentang aku. Karena aku sudah tidak sabar menceritakan inti dari cerita ini.

---


Aktivitas dibumi akan segera dimulai. Matahari belum menampakan diri tetapi aku sudah stay didapur. Berdiri diantara kompor-kompor dengan tangan berpegangan pada pisau merah muda kesayanganku. Jangan ditanya seorang modeling terkenal ini sedang apa di dapur. Aku sedang memasak nasi goreng naget kesukaan Rindu, Ya! Bukan hanya lihai urusan catwalk dan berpose didepan kamera, Aku juga lihai urusan memasak. Karena Mama-Ku bilang, setiap wanita harus pandai memasak.

plak..plak

Aku sedang memotong beberapa siung bawang, guna mendapatkan aroma yang khas pada nasi goreng buatanku. Suara potongan itu tidak sendirian, aku ditemani nyanyian yang keluar dari speaker ponsel. Youre Still The One dari pelantun terkenal Shania Twain mengisi suasana dapur pagi itu. Rumahku terbilang cukup mewah walaupun terlihat minimalis, Apa tidak punya pembantu? Tentu saja aku punya. Hanya saja, aku sudah terbiasa membuat sarapan pagi untuk Rindu

Rindura Kalangga. anakku yang lahir pada saat aku berusia 19tahun. Cukup mengejutkan, seperti yang aku ucapkan sebelumnya bahwa ada kecelakaan yang aku alami. Bocah perempuan kecil yang lucu dan menggemaskan, sampai aku tidak sanggup pisah satu jam atau dua jam darinya. Namun, karena aku juga harus mencari uang demi kelangsungan hidupnya, aku rela memaksakan dirinya berpisah dengan Rindu berjam-jam

Sebenarnya, aku terbilang cukup enak didunia modeling yang kujalani. Bayangkan saja, dimana ada agency permodelan yang membolehkan wanita hamil ikut berpose? dan dimana lagi boleh cuti selama dua tahun lamanya hanya untuk mengurus anak. Itu semua karena aku terbilang sukses untuk memantap kan nama dari institut permodelan yang aku lakoni, banyak gunjingan dari dunia luar termasuk sosial media terhadapku. Banyak juga beberapa pasang mata yang mentuding aku tidak lagi pantas masih berada di Lorn Agency, anggap saja namanya begitu

"Biar saya bantu, Non?" ucap Bi Yem

Bi Yem adalah pembantu asisten rumah tangga dirumah ku, Bi Yem sudah bekerja lama sedari aku kecil hingga aku memiliki si kecil. Aku menerima saluran bantuan dari Bi Yem, aku menyuruh nya menggoreng naget. Bunyi ceprikan minyak panas juga menemani suasana dapur, taklama semua pun siap

Sudah pukul enam kurang dan sarapan pagi telah tersedia di atas meja. Papa dan Mama sudah dengan pakaian rapi, seperti biasa bahwasanya Papa ingin ke kantor, sedangkan Mama kudengar ingin menemui klien Papa sebagai pengganti karena Papa terlalu sibuk oleh bisnisnya. Setidaknya, sesibuk apapun beliau masih bisa menikmati sarapan pagi bersama keluarga. 

Aku berlari cepat menaiki tangga menuju kamar Rindu, niatku hendak membangunkannya dari tidur tetapi ternyata ia sudah berada diluar sedang menutup pintu. Dengan seragam putih merah yang rapi dan rambut hitam panjang berkuncir kuda. Seperti sudah siap diberangkatkan kesekolah

"Selamat pagi, putri kecil. Hayuk sarapan sudah siap" ucapku

Rindu mengikuti aku turun menuju meja makan. Anak itu duduk dikursi tepat di tengah-tengah Nana&Nini nya

"Hai cucu kesayangan Nana, bagaimana sekolahnya?" Tanya Papa

Nana adalah panggilan Rindu untuk Papaku sejak kecil. Dulu, waktu usia Rindu menginjak delapan bulan, ia kesulitan memanggil Papa dengan sebutan Atuk, ia hanya bisa memanggil Mama dengan sebutan Nini. Maka dari itu, Papa pun dipanggil dengan sebutan Nana pada Rindu. Setelah cukup lama akhirnya sebuta itupun menjadi sampai sekarang dan Papa pun menyukainya

"Alhamdulillah, Rindu dapat nilai tinggi diulangan Ipa" jawabnya sembari menyendokan nasi goreng kedalam mulutnya

Waktu terus berjalan hingga Rindu pun hendak pergi sekolah..

BERSAMBUNG


Beri komen buat lanjut ya..

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel