5 Gangguan Kejiwaan Berawal Dari Selfie Maupun Vifie
Saturday, September 15, 2018
Quote:

Quote:
Topik lama yang ane coba angkat kembali
Quote:
Selfie atau memotret diri sendiri dan vifie atau memvidio diri sendiri bisa jadi ajang aktualisasi diri. Jadi sekali-dua kali selfie atau vifie mungkin tak jadi soal. Lantas bagaimana dengan yang tergila-gila akan selfie maupun vifie?
Apa kabar kesehatan mentalnya?
Psikiater, dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ menegaskan selfie dapat memicu munculnya gejala gangguan kepribadian seperti narsisistik dan histrinoik (caper atau ingin jadi pusat perhatian), menurutnya "Gangguan kepribadian ini bukan timbul karena yang bersangkutan sering selfie. Kemungkinan sudah terbentuk kepribadian tersebut lalu ditemukan mediumnya untuk memunculkan gejala".
Apa kabar kesehatan mentalnya?
Psikiater, dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ menegaskan selfie dapat memicu munculnya gejala gangguan kepribadian seperti narsisistik dan histrinoik (caper atau ingin jadi pusat perhatian), menurutnya "Gangguan kepribadian ini bukan timbul karena yang bersangkutan sering selfie. Kemungkinan sudah terbentuk kepribadian tersebut lalu ditemukan mediumnya untuk memunculkan gejala".
Quote:
Apabila sudah sampai pada tahap terobsesi, tergila-gila atau sangat gemar melakukan selfie atau vifie, spa saja sih dampak selfie atau vifie terhadap kesehatan mental seseorang, berikut ini gansis dampak-dampaknya berdasarkan sumber yang TS dapet dari internet.
Quote:
Spoiler for Narsis:

Narsis tidak sekedar gemar memuji diri sendiri, namun narsis merupakan salah satu penyakit mental atau gangguan psikologis. Dalam istilah ilmiah narsis disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD). Narsis bisa disebabkan faktor keturunan dan faktor lingkungan sekitar. Biasanya narsis muncul akibat pujian yang diterima terus menerus dari orang lain. Contohnya, seseorang akan merasa cantik karena banyak orang yang memuji dirinya cantik meski sebenarnya dia tidak merasa demikian.
NPD tidak hanya ditunjukkan dengan perilaku senang memuji diri sendiri, kerap bergaya di depan cermin, namun juga terdapat implikasi lain dari sikap narsis itu sendiri. Meski terlihat percaya diri sebenarnya seseorang yang mengalami gangguan psikologis ini sangat sensitif terhadap kritik sekecil apapun. Pengidap gangguan NPD membutuhkan psikoterapi bila gangguan ini sudah begitu kuat hingga mengasingkan seseorang dari masyarakat.
Menurut psikolog klinis dan forensik, Kasandra Putranto, selfie merupakan bagian dari narsis. Sedangkan narsis atau narsistik adalah prilaku mencintai diri sendiri yang berlebihan. Narsis tidak hanya pamer di jejaring sosial tapi juga ingin selalu menang sendiri, baik dengan orang lain maupun pasangannya.
Menurutnya Kasandra Putranto "Selfie mewakili satu elemen narsistik, selfie kan prilaku memotret. Narsis adalah lebih kepada mencintai diri sendiri. Pamernya nggak cuma wajah, bahkan berhadapan dengan orang maunya menang sendiri, yang penting diri sendiri daripada orang lain. Itu kan narsis".
Jadi tidak selamanya selfie berarti narsis. Bisa saja dia hanya selfie hanya untuk kesenangan sesaat. Sementara mereka yang narsis bisa menjadi seorang narsistik atau mengalami gangguan kepribadian. Penderita narsistik percaya bahwa mereka lebih unggul dan kurang memperhatikan perasaan orang lain. Namun di balik itu semua sebenarnya dia memiliki harga diri yang rapuh dan rentan terhadap kritik.
Sedangkan selfie bukan merupakan tandanya ada gangguan jiwa atau kepribadian. Psikolog yang meniti karier sejak 1997 itu menuturkan, belum ada penelitian bahwa orang-orang yang suka selfie juga memiliki gangguan kejiwaan.
"Sampai saat ini belum ada klasifikasi gangguan kejiwaan untuk masalah selfie. Tapi yang jelas ada karakteristik kepribadian, dimana orang-orang yang pendiam, tertutup, pemalu, tentu tidak akan melakukan itu," tambah psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.
NPD tidak hanya ditunjukkan dengan perilaku senang memuji diri sendiri, kerap bergaya di depan cermin, namun juga terdapat implikasi lain dari sikap narsis itu sendiri. Meski terlihat percaya diri sebenarnya seseorang yang mengalami gangguan psikologis ini sangat sensitif terhadap kritik sekecil apapun. Pengidap gangguan NPD membutuhkan psikoterapi bila gangguan ini sudah begitu kuat hingga mengasingkan seseorang dari masyarakat.
Menurut psikolog klinis dan forensik, Kasandra Putranto, selfie merupakan bagian dari narsis. Sedangkan narsis atau narsistik adalah prilaku mencintai diri sendiri yang berlebihan. Narsis tidak hanya pamer di jejaring sosial tapi juga ingin selalu menang sendiri, baik dengan orang lain maupun pasangannya.
Menurutnya Kasandra Putranto "Selfie mewakili satu elemen narsistik, selfie kan prilaku memotret. Narsis adalah lebih kepada mencintai diri sendiri. Pamernya nggak cuma wajah, bahkan berhadapan dengan orang maunya menang sendiri, yang penting diri sendiri daripada orang lain. Itu kan narsis".
Jadi tidak selamanya selfie berarti narsis. Bisa saja dia hanya selfie hanya untuk kesenangan sesaat. Sementara mereka yang narsis bisa menjadi seorang narsistik atau mengalami gangguan kepribadian. Penderita narsistik percaya bahwa mereka lebih unggul dan kurang memperhatikan perasaan orang lain. Namun di balik itu semua sebenarnya dia memiliki harga diri yang rapuh dan rentan terhadap kritik.
Sedangkan selfie bukan merupakan tandanya ada gangguan jiwa atau kepribadian. Psikolog yang meniti karier sejak 1997 itu menuturkan, belum ada penelitian bahwa orang-orang yang suka selfie juga memiliki gangguan kejiwaan.
"Sampai saat ini belum ada klasifikasi gangguan kejiwaan untuk masalah selfie. Tapi yang jelas ada karakteristik kepribadian, dimana orang-orang yang pendiam, tertutup, pemalu, tentu tidak akan melakukan itu," tambah psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.
Quote:
Spoiler for Adiksi:

Setiap orang generasi zaman sekarang yang punya smartphone, pasti pernah melakukan yang namanya selfie maupun vifie. Benar kan? Bukan saja sebagai cara mengabadikan momen, selfie maupun vifie sepertinya sudah menjadi salah satu hal wajar untuk dilakukan. Tapi bagaimana jika selfie menjadi candu atau obsesi tersendiri?
Ternyata, baru-baru ini penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Mental Health and Addiction mengungkapkan bahwa kecanduan melakukan selfie bisa dikategorikan sebagai penyakit atau gangguan mental. Penyakit kecanduan selfie ini dinamakan selfitis, mungkin kalo jika kecanduan vifie Namanya vifitis.
Janarthanan Balakrishnan dari Thiagarajar School of Management, India, dan Mark D. Griffiths dari Nottingham Trent University meneliti tentang perilaku lebih dari 600 mahasiswa universitas India usia rata-rata 20 tahun untuk mengukur seberapa parah kebiasaan selfie yang mereka lakukan dan mengkategorikan menjadi selfitis akut, kronis dan sedang/perbatasan.
Dalam hal ini, mereka mengembangkan skala subkategori untuk mengindikasikan kebiasaan selfie yang disebut Selfitis Behavior Scale (SBS). Berkembangnya lingkungan, persaingan sosial, pencarian perhatian, suasana hati, kepercayaan diri, dan kesesuaian sosial adalah enam faktor yang paling menentukan mengapa orang sering melakukan selfie.Dari enam subkategori, tingkat persaingan sosial yang tinggi merupakan indikator utama mereka yang menderita selfitis kronis. Bahkan hal ini menjadi faktor besar timbulnya perilaku obsesif lainnya, seperti main video game, judi dan lain sebagainya.
Setelah melakukan survey, ternyata sebanyak 34% orang menderita selfitis sedang, 40,5% selfitis akut dan 25,50% lainnya selfitis kronis. Sedangkan untuk kategori jenis kelamin, laki-laki memiliki tingkat lebih tinggi cenderung mengalami selfitis dibandingkan wanita, dengan perbandingan 57,50% untuk pria dan 42,50% untuk wanita.
Menurut Janarthanan Balakrishnan dalam New York Post "Umumnya, kondisi ini dipicu karena kurangnya rasa kepercayaan diri dan mencari cara agar bisa 'berbaur' dengan masyarakat sekitarnya".
Berapa banyak selfie per hari sehingga dikategorikan selfitis? Tidak terlalu banyak sebenarnya, orang sudah bisa dikategorikan kecanduan selfie jika melakukan selfie 1-4 kali per hari (sebanyak 55% orang melakukannya), melakukan selfie tapi tidak dipost secara online (34% orang melakukannya), dan melakukan selfie lebih dari 8 kali (sebanyak 9% orang melakukannya).
Ternyata, baru-baru ini penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Mental Health and Addiction mengungkapkan bahwa kecanduan melakukan selfie bisa dikategorikan sebagai penyakit atau gangguan mental. Penyakit kecanduan selfie ini dinamakan selfitis, mungkin kalo jika kecanduan vifie Namanya vifitis.
Janarthanan Balakrishnan dari Thiagarajar School of Management, India, dan Mark D. Griffiths dari Nottingham Trent University meneliti tentang perilaku lebih dari 600 mahasiswa universitas India usia rata-rata 20 tahun untuk mengukur seberapa parah kebiasaan selfie yang mereka lakukan dan mengkategorikan menjadi selfitis akut, kronis dan sedang/perbatasan.
Dalam hal ini, mereka mengembangkan skala subkategori untuk mengindikasikan kebiasaan selfie yang disebut Selfitis Behavior Scale (SBS). Berkembangnya lingkungan, persaingan sosial, pencarian perhatian, suasana hati, kepercayaan diri, dan kesesuaian sosial adalah enam faktor yang paling menentukan mengapa orang sering melakukan selfie.Dari enam subkategori, tingkat persaingan sosial yang tinggi merupakan indikator utama mereka yang menderita selfitis kronis. Bahkan hal ini menjadi faktor besar timbulnya perilaku obsesif lainnya, seperti main video game, judi dan lain sebagainya.
Setelah melakukan survey, ternyata sebanyak 34% orang menderita selfitis sedang, 40,5% selfitis akut dan 25,50% lainnya selfitis kronis. Sedangkan untuk kategori jenis kelamin, laki-laki memiliki tingkat lebih tinggi cenderung mengalami selfitis dibandingkan wanita, dengan perbandingan 57,50% untuk pria dan 42,50% untuk wanita.
Menurut Janarthanan Balakrishnan dalam New York Post "Umumnya, kondisi ini dipicu karena kurangnya rasa kepercayaan diri dan mencari cara agar bisa 'berbaur' dengan masyarakat sekitarnya".
Berapa banyak selfie per hari sehingga dikategorikan selfitis? Tidak terlalu banyak sebenarnya, orang sudah bisa dikategorikan kecanduan selfie jika melakukan selfie 1-4 kali per hari (sebanyak 55% orang melakukannya), melakukan selfie tapi tidak dipost secara online (34% orang melakukannya), dan melakukan selfie lebih dari 8 kali (sebanyak 9% orang melakukannya).
Quote:
Spoiler for Histrionik:

Mungkin belum banyak yang pernah mendengar istilah histrionik ini. Ini sebenarnya merupakan gangguan kepribadian di mana penderitanya ingin menjadi pusat perhatian. Sebagian besar penggila selfie atau vifie sering diidentikkan dengan kondisi ini, tentu saja di samping narsis.
Histrionic Personality Disorder (HPD) adalah suatu gangguan kepribadian yang melibatkan emosi yang berlebihan dan kebutuhan yang besar untuk menjadi pusat perhatian. Istilah histrionik ini berasal dari bahasa latin yaitu histrio yang berarti "aktor". Orang dengan gangguan kepribadian histrionik ini cenderung lebih bersikap seperti aktor, dramatis dan emosional. Namun, emosi mereka sangatlah dangkal, dibesar-besarkan dan mudah berubah.
Gangguan ini pada umumnya lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Orang yang mengalami gangguan kepribadian ini bisa merasakan kekecewaan yang sangat dalam, padahal sumber kekecewaannya adalah suatu hal yang mayoritas orang akan mengatakan hal tersebut merupakan hal yang sepele. Mereka juga dapat menggambarkan ekspresi riang yang kadar nya sangat berlebihan.
Fenomena narsis yang akut (terbukti dari makin ramainya foto-foto 'selfie' maupun vifie yang diunggah oleh subjek penderita. Subjek penderita adalah seseorang yang sulit mengendalikan hasratnya untuk berkali-kali memotret diri sendiri maupun memvidio diri sendiri. Baik foto sendiri maupun minta tolong orang lain. Lalu ia segera mengunggah di jejaring sosial miliknya.
Hobi selfie alias memotret diri sendiri bisa menunjukkan ciri kepribadian seseorang histrionik (ingin menjadi pusat perhatian). Namun, pada taraf tertentu, selfie sebagai ciri kepribadian juga bisa menunjukkan adanya gangguan kepribadian.Seperti diutarakan dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ atau yang akrab disapa Noriyu, selfie bisa menjadi medium atau cara yang tepat bagi orang dengan kepribadian narsisistik atau histrionik. Menurutnya, "Selama dia masih bisa kontrol, selfienya dalam dosis normal sesekali gitu, ya nggak apa-apa karena itu ciri kepribadian dia. Tapi, kalau berlebihan jangan-jangan dia ada gangguan kepribadian narsisistik atau histrionik"
Histrionic Personality Disorder (HPD) adalah suatu gangguan kepribadian yang melibatkan emosi yang berlebihan dan kebutuhan yang besar untuk menjadi pusat perhatian. Istilah histrionik ini berasal dari bahasa latin yaitu histrio yang berarti "aktor". Orang dengan gangguan kepribadian histrionik ini cenderung lebih bersikap seperti aktor, dramatis dan emosional. Namun, emosi mereka sangatlah dangkal, dibesar-besarkan dan mudah berubah.
Gangguan ini pada umumnya lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Orang yang mengalami gangguan kepribadian ini bisa merasakan kekecewaan yang sangat dalam, padahal sumber kekecewaannya adalah suatu hal yang mayoritas orang akan mengatakan hal tersebut merupakan hal yang sepele. Mereka juga dapat menggambarkan ekspresi riang yang kadar nya sangat berlebihan.
Fenomena narsis yang akut (terbukti dari makin ramainya foto-foto 'selfie' maupun vifie yang diunggah oleh subjek penderita. Subjek penderita adalah seseorang yang sulit mengendalikan hasratnya untuk berkali-kali memotret diri sendiri maupun memvidio diri sendiri. Baik foto sendiri maupun minta tolong orang lain. Lalu ia segera mengunggah di jejaring sosial miliknya.
Hobi selfie alias memotret diri sendiri bisa menunjukkan ciri kepribadian seseorang histrionik (ingin menjadi pusat perhatian). Namun, pada taraf tertentu, selfie sebagai ciri kepribadian juga bisa menunjukkan adanya gangguan kepribadian.Seperti diutarakan dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ atau yang akrab disapa Noriyu, selfie bisa menjadi medium atau cara yang tepat bagi orang dengan kepribadian narsisistik atau histrionik. Menurutnya, "Selama dia masih bisa kontrol, selfienya dalam dosis normal sesekali gitu, ya nggak apa-apa karena itu ciri kepribadian dia. Tapi, kalau berlebihan jangan-jangan dia ada gangguan kepribadian narsisistik atau histrionik"
Quote:
Spoiler for BDD:

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh University of Strathclyde, Ohio University dan University of Iowa ditemukan bahwa semakin banyak wanita melakukan selfie dan mengunggahnya di media sosial, maka semakin mereka merasa insecure atau tidak nyaman dengan citra tubuhnya sendiri. Apalagi bila kegiatan ini dilakukan sambil dengan mengamati selfie teman-temannya. Karena ini akan memicu si wanita untuk membanding-bandingkan tubuhnya dengan tubuh orang lain, dan hal ini semakin memicu mereka untuk berpikir negatif tentang penampilannya.
Menurut peneliti Petya Eckler "Mereka yang masih berusia muda biasanya membandingkan diri mereka dengan foto-foto orang lain di media sosial. Yang berbahaya, mereka pada akhirnya merasa bersalah jika tubuh mereka tak seperti yang mereka lihat dari orang lain di media sosial". Selfie bisa jadi ajang narsis untuk beberapa orang. Tetapi, bagi orang dengan gangguan jiwa Body Dysmorphic Disorder, selfie bisa jadi media mereka untuk 'mengevaluasi' penampilannya. Jika tak puas dengan penampilannya, mereka bisa saja depresi sampai bunuh diri.
Menurut dr Danardi Sosrosumihardjo SpKJ "Selfie bisa jadi media bagi orang untuk melihat penampilannya. Dampaknya, si orang ini bisa merasa dia jelek atau tidak sehat hingga timbul suatu kekecewaan dan memicu gangguan jiwa misalnya Body Dysmorphic Disorder". Jika hanya karena selfie seseorang merasa kecewa dengan fisiknya hingga ingin bunuh terdapat dua sebab yakni depresi dan merasa kehilangan masa depan atau ada halusinasi bisikan baiknya bunuh diri.
dr Tun Kurniasih Bastaman SpKJ, menegaskan terlalu fokus pada kesempurnaan fisik memang bisa menimbulkan gangguan body dysmorphic disorder yakni tidak pernah merasa puas dengan dirinya sendiri. dr Tun menyatakan bahwa "Orang ini merasa tubuhnya tidak sempurna, bisa dikatakan hampir memiliki delusi bahwa matanya kurang simetris, pipinya kurang berisi, sehingga muncul perasaan tidak pernah puas, kecewa, dan minder". Selain itu, pada orang dengan BDD mereka akan rela melakukan berbagai bentuk operasi plastik untuk menyempurnakan penampilannya.
Menurut peneliti Petya Eckler "Mereka yang masih berusia muda biasanya membandingkan diri mereka dengan foto-foto orang lain di media sosial. Yang berbahaya, mereka pada akhirnya merasa bersalah jika tubuh mereka tak seperti yang mereka lihat dari orang lain di media sosial". Selfie bisa jadi ajang narsis untuk beberapa orang. Tetapi, bagi orang dengan gangguan jiwa Body Dysmorphic Disorder, selfie bisa jadi media mereka untuk 'mengevaluasi' penampilannya. Jika tak puas dengan penampilannya, mereka bisa saja depresi sampai bunuh diri.
Menurut dr Danardi Sosrosumihardjo SpKJ "Selfie bisa jadi media bagi orang untuk melihat penampilannya. Dampaknya, si orang ini bisa merasa dia jelek atau tidak sehat hingga timbul suatu kekecewaan dan memicu gangguan jiwa misalnya Body Dysmorphic Disorder". Jika hanya karena selfie seseorang merasa kecewa dengan fisiknya hingga ingin bunuh terdapat dua sebab yakni depresi dan merasa kehilangan masa depan atau ada halusinasi bisikan baiknya bunuh diri.
dr Tun Kurniasih Bastaman SpKJ, menegaskan terlalu fokus pada kesempurnaan fisik memang bisa menimbulkan gangguan body dysmorphic disorder yakni tidak pernah merasa puas dengan dirinya sendiri. dr Tun menyatakan bahwa "Orang ini merasa tubuhnya tidak sempurna, bisa dikatakan hampir memiliki delusi bahwa matanya kurang simetris, pipinya kurang berisi, sehingga muncul perasaan tidak pernah puas, kecewa, dan minder". Selain itu, pada orang dengan BDD mereka akan rela melakukan berbagai bentuk operasi plastik untuk menyempurnakan penampilannya.
Quote:
Spoiler for Eksibisionis:

Eksibisionis atau kecenderungan untuk memamerkan bagian tubuh tertentu kepada orang lain bisa juga dipicu oleh kebiasaan selfie maupun vifie. Eksibisionisme adalah perilaku kelainan seksual dimana seseorang suka atau gemar mamperlihatkan organ vitalnya kepada lawan jenis untuk memuaskan hasrat pribadi. Secara umum, tidak ada kontak yang dilakukan dengan korban, si pelaku eksibisionisme terangsang secara seksual dengan mendapat perhatian dan mengejutkan orang lain dengan tindakannya. Pelakunya disebut eksibisionis. Kelainan seks ini tidak hanya terjadi bagi laki-laki tetapi perempuan juga bisa mengalami kelainan eksibisionisme ini. Seorang eksibisionis tidak hanya sebatas memperlihatkan organ vitalnya,namun di beberapa kasus seorang eksibisionis juga melakukan masturbasi di hadapan korbannya. Seorang eksibisionis merasa puas walaupun hanya melakukan tindakan seperti itu.
Psikolog Reza Indragiri Amriel menjelaskan, timbulnya eksibisionis dalam diri seseorang berawal dari adanya perasaan rendah diri amat parah. Karena ingin dianggap normal, kemudian dia menempuh berbagai jalan untuk mendapatkan pengakuan bahwa dirinya juga memiliki sisi kuat. Menurut Reza "Yang dicari adalah pengakuan eksternal bahwa dia memiliki sisi yang kuat. Kalau orang lain ketakutan dan macam-macam, itulah yang dicari"
Psikolog Reza Indragiri Amriel menjelaskan, timbulnya eksibisionis dalam diri seseorang berawal dari adanya perasaan rendah diri amat parah. Karena ingin dianggap normal, kemudian dia menempuh berbagai jalan untuk mendapatkan pengakuan bahwa dirinya juga memiliki sisi kuat. Menurut Reza "Yang dicari adalah pengakuan eksternal bahwa dia memiliki sisi yang kuat. Kalau orang lain ketakutan dan macam-macam, itulah yang dicari"
Quote:
Nah itu dia gansis beberapa gangguan jiwa yang diberawal dari selfie maupun vifie
Alangkah baiknya jika kita melakukan selfie maupun vifie pada kadar dan porsi yang cukup, tidak usah berlebih-lebihan, karena yang berlebihan itu belum tentu baik.:D
Alangkah baiknya jika kita melakukan selfie maupun vifie pada kadar dan porsi yang cukup, tidak usah berlebih-lebihan, karena yang berlebihan itu belum tentu baik.:D
Quote:
Spoiler for Jangan Dibuka:
sekian dan terimaksih
jika berkenan, share, rate and komen
ane ga nolak dikasih :lemparbata
ane mau jadi pengepul bata, jangan kasih ijo :(
Spoiler for bonus:





