Saturday, July 14, 2018

Saat Tersangka Korupsi Bertaji Dalam Pilkada, dan Kotak Kosong yang Berbunyi Nyaring



Pilkada serentak di berbagai daerah telah usai. Pemenangnya juga sudah nyaris diketahui setelah KPUD menyelesaikan hasil rekapan suara dari masyarakat. Terlepas dari reaksi partai politik yang belum menerima kekalahan paslon-nya, penghitungan terus dijalankan. Mungkin prinsip bagi KPUD, biarlah anjing menggonggong, ayam berkokok, dan kucing berteriak nyaring, emang gue pikirin!?

Namun ada yang menyita perhatian saya ketika salah satu daerah hasil dari pungutan suaranya, memenangkan paslon yang menjadi tersangka korupsi yang telah ditetapkan oleh lembaga anti rasuah KPK. Tentu ini menarik bagi saya. Selain drama dan tuduhan adanya kecurangan pilkada di Jawa Tengah.

Korupsi, sebagaimana amanat Undang-undang, dan dibenci oleh masyarakat, adalah kejahatan super mengerikan. Ditangan para koruptor berhati busuk ini, milyaran uang milik rakyat hanya dinikmati segelintir orang beserta kroni-kroninya. Nominal uang besar yang seharusnya bisa dijadikan untuk membangun sarana dan prasarana sekolah supaya masyarakat menjadi pintar dan bersumbu lebih panjang, terpaksa terbengkalai. Andaikan pun diwujudkan dalam bentuk gedung, bahan dasar bangunannya bisa jadi tidak kokoh akibat berkurangnya material yang dananya disunat dan masuk ke kantong koruptor.

Dengan demikian, bonus demografi yang digadang-gadang menjadi berkah bagi Indonesia sepertinya kurang bisa dimaksimalkan dengan baik. Disaat negara Jepang dan Jerman menyisakan generasi hampir "jompo", beberapa tahun kedepan kondisi sebaliknya akan diterima oleh rakyat negeri ini. Namun, melihat masih karut marutnya birokrasi dalam memberantas korupsi, memunculkan sikap pesimis jika bonus tersebut akan menjadi berkah. Kelak, cita-cita bangsa ini mengejar ketertinggalannya dari segi SDM yang berkualitas, mungkin masih jauh panggang dari api. Karena untuk dana pendidikan saja, para koruptor masih tega menggerogotinya.

Terbukti, sudah menjadi tersangkapun masih memenangkan konstestasi politik. Kendati nanti bisa dianulir atau tidak, atau secara mekanisme wakilnya bisa naik level, namun hal ini cukup membuat hati miris.

Jadi, jika ada anggapan bahwa korupsi dianggap salah satu penyebab "miskin"nya negeri ini, tampaknya asumsi tersebut kehilangan kebenarannya bagi sebagian warga di sebuah daerah, dan masih di wilayah Indonesia. Bagi mereka, pernyataan Fahri Hamzah yang pernah menyebut korupsi sebagai oli pembangunan, bukan bagian dari salah satu penyakit yang melahirkan serpihan luka pedih nan menyakitkan. Ya, korupsi termasuk pelakunya ternyata masih mendapatkan tempat dan hati dalam benak masyarakat. Tentu saja, ini merupakan ironi diatas ironi.

***

Selain sajian tak elok hasil pilkada yang dimenangkan oleh tersangka korupsi, kisah nyeleneh terjadi pula dengan kemenangan "kotak kosong" melawan paslon yang membuat saya terpingkal-pingkal. Sebenarnya gak lucu, tapi tidak tahu kenapa, saya ketawa sampai dikira sedang menonton film Fun with Dick and Jane. Salah satu film favorit jelang akhir bulan dan gajian pun datang merangkak dengan lamban.

Fenomena kemenangan kotak kosong, merupakan indikasi berkurangnya rasa "kepercayaan" bagi rakyat terhadap figur calon pemimpinnya. Jelas, ini sinyal bahaya bagi kehidupan di alam demokrasi seperti saat ini. Karena faktor kepercayaan mutlak diperlukan bagi siapa saja yang berusaha menyakinkan masyarakat untuk dijadikan sebagai lokomotif penarik gerbong dibelakangnya. Bukankah hilangnya kepercayaan pertanda rakyat sudah sedemikian kritis disertai sikap apatis? Tak hanya meng"amini" pilihan dari partai?

Merujuk pada hasil pilkada yang dimenangkan oleh paslon "kotak kosong", sebaiknya partai yang memiliki domain memberikan mandat kepada sosok yang ingin berlaga, benar-benar menyeleksi jagoannya. Masyarakat berharap calon pemimpinnya mampu diterima oleh semua pihak, memiliki rekam jejak yang positif, berintegritas tinggi, dan yang terpenting, sanggup merangkul semua elemen masyarakat demi kemaslahatan umat, dan tidak tersandera oleh kepentingan partai.

Lalu, bagaimana caranya? Ya jangan tanya saya. Wong saya bukan pengurus partai...!?


Selamat berakhir pekan!
©Skydavee

Sumber gambar: google